Apa sih baik hati itu?
Pertanyaan ini terdengar sederhana. Namun semakin kupikirkan, semakin kusadari bahwa jawabannya tidak sesederhana yang kubayangkan.
Selama ini kita sering menggambarkan orang yang baik hati sebagai orang yang ramah, murah senyum, suka menolong, lembut, atau mudah memaafkan.
Semua itu memang merupakan wujud dari kebaikan.
Namun bagiku, semua itu masih menjelaskan bagaimana baik hati tampak, bukan apa yang menjadi inti dari baik hati itu sendiri.
Aku mulai bertanya kepada diriku sendiri.
Apakah seseorang benar-benar baik hati jika ia ramah kepada orang yang disukainya, tetapi tidak adil kepada orang yang tidak disukainya?
Apakah seseorang benar-benar baik hati jika ia selalu ingin menyenangkan orang lain, tetapi mengorbankan kebenaran?
Atau ketika ia gemar menolong, tetapi diam-diam merasa dirinya lebih mulia daripada orang yang ditolong?
Pertanyaan-pertanyaan itu membawaku pada sebuah pemahaman.
Bagiku, baik hati adalah keadaan hati yang menghendaki dan melakukan kebaikan karena alasan yang benar.
Namun kemudian muncul pertanyaan berikutnya.
Apa yang menjaga agar kebaikan itu tetap berada di jalan yang benar?
Kebaikan Membutuhkan Arah
Dalam Islam, arah itu adalah ‘adl — keadilan.
Keadilan bukan sekadar bersikap seimbang, melainkan memberikan hak kepada yang berhak dan menempatkan sesuatu pada tempatnya.
Allah berfirman:
“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil (‘adl), berbuat kebajikan (ihsan), dan memberi kepada kaum kerabat….”
(QS. An-Nahl [16]: 90)
Menariknya, Allah menyebut ‘adl lebih dahulu, kemudian ihsan.
Bagiku, urutan ini mengingatkan bahwa kebaikan yang sejati tidak pernah bertentangan dengan keadilan. Bahkan, keadilan menjadi fondasi agar kebaikan tidak berubah menjadi keberpihakan yang lahir dari rasa suka, benci, atau kepentingan pribadi.
Allah juga mengingatkan,
“…Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.”
(QS. Al-Ma’idah [5]: 8)
Berbuat baik memang penting.
Namun tanpa keadilan, kebaikan dapat berubah menjadi sesuatu yang justru melukai.
Mengapa Berlaku Adil Tidak Mudah?
Jawabannya mungkin karena ego.
Ego ingin menang.
Ego ingin dipuji.
Ego ingin selalu benar.
Karena itulah Islam mengajarkan tawadhu’.
Selama ini aku sering mendengar orang menyamakan rendah hati dengan rendah diri.
Padahal keduanya berbeda.
Rendah diri membuat seseorang merasa dirinya tidak berharga.
Sedangkan rendah hati atau tawadhu’ bukan mengecilkan diri dan bukan pula meninggikan diri. Tawadhu’ adalah menempatkan diri secara benar di hadapan Allah dan di hadapan manusia.
Rasulullah ﷺ bersabda,
“Tidaklah seseorang bersikap tawadhu’ karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.”
(HR. Muslim)
Tawadhu’ membuat seseorang berani berkata,
“Mungkin aku belum melihat semuanya.”
“Aku perlu mendengar sebelum menyimpulkan.”
“Aku bisa saja keliru.”
Sikap seperti inilah yang membuka jalan bagi keadilan.
Imam Asy-Syafi’i pernah berkata,
“Pendapatku benar, tetapi mungkin mengandung kesalahan. Pendapat orang lain salah, tetapi mungkin mengandung kebenaran.”
Kalimat ini bukan mengajarkan keraguan terhadap kebenaran, melainkan adab dalam mencarinya.
Tujuan sebuah percakapan bukanlah memenangkan ego, melainkan bersama-sama mendekati kebenaran.
Makna
Kini aku memahami bahwa baik hati bukan sekadar bersikap lembut, ramah, atau suka menolong.
Semua itu adalah buahnya.
Bagiku, baik hati terwujud ketika kita berlaku adil dengan tawadhu’.
Ketika keadilan menjadi arah, dan tawadhu’ menjaga hati dari kesombongan, kebaikan tidak lagi lahir karena ingin dipuji manusia, melainkan karena berharap ridha Allah.
Referensi
Al-Qur’an
- QS. An-Nahl [16]: 90
- QS. Al-Ma’idah [5]: 8
- QS. An-Nisa’ [4]: 135
Hadis
- Sahih Muslim, no. 2588 (penomoran dapat berbeda antar edisi): “Tidaklah seseorang bersikap tawadhu’ karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.”
Atsar Ulama
- Ungkapan Imam Asy-Syafi’i yang masyhur tentang adab ilmiah:“Pendapatku benar, tetapi mungkin mengandung kesalahan. Pendapat orang lain salah, tetapi mungkin mengandung kebenaran.”
Catatan Penulis
Tulisan ini merupakan pemaknaan pribadi yang lahir dari perenungan atas nilai-nilai Islam tentang ‘adl (keadilan) dan tawadhu’ (kerendahan hati). Kalimat “Bagiku, baik hati terwujud ketika kita berlaku adil dengan tawadhu'” merupakan kesimpulan penulis, bukan definisi baku dalam literatur Islam.
