“Ayah, teman-teman boleh naik motor.”

“Kamu naik mobil saja.”

Bagi sang ayah, percakapan itu mungkin sudah selesai.

Di dalam hatinya, ia berkata, “Aku tidak mau mengambil risiko kehilangan anakku.”

Namun, yang didengar sang anak justru berbeda.

“Ayah tidak percaya padaku.”

Mengapa satu kalimat yang sama dapat memiliki makna yang begitu berbeda?

Jawabannya mungkin bukan karena salah satu tidak mencintai. Melainkan karena kasih sayang sedang “berbicara” dalam bahasa yang berbeda.

Ketika Niat Tidak Sama dengan Dampaknya

Dalam psikologi komunikasi dikenal sebuah prinsip yang sangat penting:

Intention does not always equal impact.

Artinya, niat seseorang tidak selalu sama dengan dampak yang dirasakan oleh orang lain.

Seorang ayah mungkin berkata,

“Aku melakukan ini karena aku sayang padamu.”

Tetapi anak dapat merasakan,

“Ayah tidak percaya padaku.”

Kedua pengalaman tersebut dapat sama-sama nyata.

Orang tua tidak sedang berpura-pura mencintai.

Anak juga tidak sedang berpura-pura merasa tertekan.

Yang berbeda adalah pengalaman emosional yang diterima masing-masing.

Ketika Aturan Menjadi Bahasa Cinta

Setiap orang memiliki cara yang berbeda dalam mengekspresikan kasih sayang.

Ada orang tua yang lebih mudah mengungkapkannya melalui pelukan, doa, pujian, atau kata-kata yang lembut. Ada pula yang menunjukkan cinta melalui tanggung jawab, perlindungan, pengorbanan, dan aturan.

Dalam banyak keluarga, kedua bentuk kasih sayang itu hadir bersamaan.

Seorang ayah dapat memeluk anaknya, mendoakannya setiap hari, mengatakan “I love you”, sekaligus menetapkan aturan yang tidak boleh dilanggar.

Bagi sang ayah, kedua hal tersebut bukanlah sesuatu yang bertentangan.

Kasih sayang diwujudkan melalui kehangatan sekaligus tanggung jawab untuk menjaga keselamatan anak.

Namun, bahasa kasih sayang ini tidak selalu diterjemahkan dengan makna yang sama oleh anak.

Yang dimaksud sebagai perlindungan dapat dirasakan sebagai pembatasan.

Yang dimaksud sebagai perhatian dapat dirasakan sebagai pengawasan.

Yang dimaksud sebagai kasih sayang dapat dirasakan sebagai kurangnya kepercayaan.

Mengapa Anak Merasakan Berbeda?

Psikologi perkembangan menjelaskan bahwa seiring bertambahnya usia, terutama pada masa remaja hingga dewasa muda, seseorang memiliki kebutuhan psikologis yang semakin kuat untuk mandiri.

Edward L. Deci dan Richard M. Ryan, melalui Self-Determination Theory, menjelaskan bahwa setiap manusia memiliki tiga kebutuhan psikologis dasar:

  • Autonomy, yaitu kebutuhan untuk memiliki pilihan dan merasa dipercaya dalam mengambil keputusan.
  • Competence, yaitu kebutuhan untuk merasa mampu menghadapi tantangan hidup.
  • Relatedness, yaitu kebutuhan untuk merasa dicintai dan diterima.

Orang tua sering kali sangat berhasil memenuhi kebutuhan relatedness melalui kasih sayang yang nyata.

Namun, apabila kebutuhan autonomy dirasakan kurang terpenuhi, anak tetap dapat mengalami frustrasi meskipun ia mengetahui bahwa orang tuanya mencintainya.

Di sinilah kesalahpahaman sering muncul.

Orang tua berkata,

“Aku melindungimu.”

Anak mendengar,

“Aku belum dipercaya untuk menentukan pilihanku sendiri.”

Ketika Pengalaman Membentuk Aturan

Banyak orang tua menetapkan aturan bukan semata-mata karena ingin mengendalikan anak, melainkan karena mereka belajar dari pengalaman.

Ada orang tua yang pernah melihat akibat buruk dari sebuah keputusan yang terlalu bebas. Ada pula yang pernah mengalami sendiri kehilangan, kecelakaan, atau kegagalan yang membuat mereka menjadi lebih berhati-hati.

Ketika pengalaman tersebut terjadi dalam keluarga sendiri, aturan sering kali menjadi lebih tegas.

Dari sudut pandang orang tua, aturan adalah cara untuk mengurangi risiko.

Dari sudut pandang anak, aturan yang semakin ketat dapat terasa sebagai berkurangnya kepercayaan.

Kedua sudut pandang ini dapat hadir bersamaan tanpa harus saling meniadakan.

Sebuah Kisah yang Mungkin Terjadi di Banyak Rumah

Bayangkan seorang ayah yang melarang anaknya mengendarai sepeda motor.

Ia mengetahui bahwa risiko kecelakaan sepeda motor jauh lebih tinggi dibandingkan mobil.

Karena itu, meskipun kondisi keuangannya terbatas, ia rela menabung untuk membelikan anaknya sebuah mobil yang layak dan aman.

Baginya, mobil itu adalah bentuk kasih sayang.

Ia berkata dalam hati,

“Kalau dengan cara ini anakku lebih aman, semua pengorbanan ini sepadan.”

Namun, sang anak melihat situasi yang berbeda.

Teman-temannya bebas menggunakan sepeda motor.

Mereka dapat pergi ke mana saja dengan mudah.

Sementara dirinya harus mengikuti aturan yang berbeda.

Yang sedang diperjuangkan anak bukanlah jenis kendaraannya.

Yang sedang diperjuangkannya adalah kesempatan untuk memilih.

Padahal sesungguhnya ayah dan anak sedang berbicara tentang dua hal yang berbeda.

Ayah sedang berbicara tentang keamanan.

Anak sedang berbicara tentang kemandirian.

Kasih Sayang Tidak Selalu Menghapus Konflik

Mungkin kita berharap bahwa ketika orang tua sering memeluk anaknya, mendoakannya, mengucapkan “I love you”, dan menjelaskan alasan di balik setiap aturan, maka semua kesalahpahaman akan hilang.

Kenyataannya, tidak selalu demikian.

Anak tetap dapat merasa dibatasi.

Orang tua tetap dapat merasa tidak dimengerti.

Mengapa?

Karena hubungan keluarga tidak hanya dibentuk oleh kasih sayang, tetapi juga oleh tahap perkembangan, pengalaman hidup, kebutuhan psikologis, serta cara masing-masing memaknai sebuah peristiwa.

Kadang-kadang orang tua telah menyampaikan cinta melalui kata-kata maupun tindakan.

Namun anak tetap lebih mengingat perasaan ketika kebebasannya dibatasi.

Hal itu bukan berarti kasih sayang orang tua tidak ada.

Dan bukan pula berarti perasaan anak itu keliru.

Keduanya adalah pengalaman manusia yang nyata.

Yang dibutuhkan bukanlah mencari siapa yang benar atau siapa yang salah, melainkan kesediaan untuk terus membangun hubungan.

Orang tua dapat belajar memahami kebutuhan anak untuk bertumbuh menjadi pribadi yang mandiri.

Anak pun, seiring bertambahnya usia dan pengalaman hidup, sering kali mulai memahami bahwa di balik banyak aturan ternyata tersembunyi rasa takut kehilangan.

Hubungan keluarga bukanlah perlombaan untuk memenangkan pendapat.

Hubungan keluarga adalah perjalanan panjang untuk terus saling memahami.

Renungan Beranda Ande

Barangkali banyak ayah sebenarnya ingin berkata,

“Aku takut kehilanganmu.”

Namun, mereka mengucapkannya melalui bahasa aturan.

Sementara anak mendengar,

“Ayah tidak percaya padaku.”

Mungkin bukan cintanya yang kurang.

Bukan pula karena anak kurang bersyukur.

Yang belum sepenuhnya bertemu adalah cara mereka memahami cinta.

Karena kasih sayang tidak selalu diukur dari seberapa banyak kita mencintai, tetapi juga dari seberapa baik cinta itu dapat dirasakan oleh orang yang kita kasihi.


Referensi

  1. Deci, E. L., & Ryan, R. M. (2000). The “What” and “Why” of Goal Pursuits: Human Needs and the Self-Determination of Behavior. Psychological Inquiry, 11(4), 227–268.
  2. Ryan, R. M., & Deci, E. L. (2017). Self-Determination Theory: Basic Psychological Needs in Motivation, Development, and Wellness. New York: Guilford Press.
  3. Baumrind, D. (1991). The Influence of Parenting Style on Adolescent Competence and Substance Use. The Journal of Early Adolescence, 11(1), 56–95.
  4. Darling, N., & Steinberg, L. (1993). Parenting Style as Context: An Integrative Model. Psychological Bulletin, 113(3), 487–496.
  5. Steinberg, L. (2014). Age of Opportunity: Lessons from the New Science of Adolescence. New York: Houghton Mifflin Harcourt.
  6. American Psychological Association (APA). Materi edukasi mengenai perkembangan remaja, komunikasi keluarga, dan regulasi emosi.

Leave a Reply