Ada saat-saat dalam kehidupan seorang ayah atau ibu ketika semua nasihat terasa tidak lagi didengar.

Aturan sudah dibuat.

Kasih sayang sudah diberikan.

Doa tidak pernah putus.

Namun hati tetap dipenuhi pertanyaan.

“Apakah anakku baik-baik saja?”

“Apakah ia akan mengambil keputusan yang benar?”

“Apakah suatu hari ia akan memahami mengapa kami mendidiknya seperti ini?”

Barangkali, hampir semua orang tua pernah berada di titik itu.

Titik ketika rasa sayang begitu besar, tetapi kemampuan untuk mengendalikan keadaan terasa semakin kecil.

Ada Batas yang Tidak Dapat Dilewati Orang Tua

Ketika anak masih kecil, kita dapat menggandeng tangannya ke mana pun ia pergi.

Kita memilihkan makanannya.

Kita menentukan jam tidurnya.

Kita mengantar ke sekolah.

Seolah-olah kita mampu melindunginya dari segala sesuatu.

Namun, perlahan mereka bertumbuh.

Mereka mulai memiliki pendapat sendiri.

Mulai membuat keputusan sendiri.

Mulai menjalani hidup yang tidak lagi sepenuhnya dapat kita awasi.

Di titik inilah banyak orang tua menyadari sebuah kenyataan yang tidak mudah diterima.

Kasih sayang sebesar apa pun tidak memberi kita kuasa untuk mengendalikan seluruh perjalanan hidup anak.

Ikhtiar Memiliki Batas, Doa Tidak

Sebagai orang tua, kita tetap berkewajiban mendidik, menasihati, memberi teladan, dan memenuhi kebutuhan mereka sebaik mungkin.

Semua itu adalah ikhtiar yang tidak boleh ditinggalkan.

Namun, setelah semua ikhtiar dilakukan, masih ada wilayah yang berada di luar kemampuan kita.

Kita tidak dapat mengendalikan hati anak.

Kita tidak dapat memilihkan setiap keputusan yang akan mereka ambil.

Kita tidak dapat selalu berada di samping mereka ketika mereka menghadapi godaan, kegagalan, atau persimpangan hidup.

Di sinilah doa menjadi bentuk kasih sayang yang paling dalam.

Bukan karena kita menyerah.

Melainkan karena kita menyadari bahwa ada Dzat Yang Mahakuasa menjaga mereka, bahkan ketika kita tidak mampu.

Menitipkan Bukan Berarti Melepaskan

Sering kali kita mengira bahwa bertawakal berarti berhenti berusaha.

Padahal Islam mengajarkan sesuatu yang berbeda.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Ikatlah untamu, kemudian bertawakallah kepada Allah.”

(HR. At-Tirmidzi, no. 2517; dinilai hasan oleh sebagian ulama.)

Hadis ini mengajarkan keseimbangan.

Ikatlah unta itu.

Artinya, lakukan ikhtiar dengan sungguh-sungguh.

Setelah itu, bertawakallah.

Artinya, serahkan hasil yang berada di luar kemampuan kita kepada Allah.

Begitu pula dalam mendidik anak.

Kita tetap mendampingi.

Tetap menegur ketika perlu.

Tetap memeluk.

Tetap mendoakan.

Tetapi kita juga belajar menerima bahwa hidayah, perlindungan, dan keteguhan hati adalah milik Allah semata.

Ketika Hati Orang Tua Dipenuhi Ketakutan

Ada ketakutan yang mungkin tidak pernah selesai dimiliki orang tua.

Takut anak terjatuh dalam pilihan yang keliru.

Takut mereka terluka.

Takut mereka kehilangan arah.

Takut mereka jauh dari nilai-nilai yang telah diajarkan sejak kecil.

Ketakutan itu adalah bagian dari cinta.

Namun, jangan biarkan ketakutan berubah menjadi keputusasaan.

Allah berfirman,

“…Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

(QS. Az-Zumar [39]: 53)

Meskipun ayat ini berbicara tentang keluasan ampunan Allah, ia juga mengingatkan kita bahwa rahmat Allah jauh lebih luas daripada kecemasan manusia.

Tidak ada hati yang terlalu sulit untuk disentuh oleh-Nya.

Tidak ada jalan pulang yang terlalu jauh bagi siapa pun yang dikehendaki-Nya mendapat petunjuk.

Ketika Genggaman Harus Dilonggarkan

Mungkin menjadi orang tua adalah perjalanan belajar menggenggam dengan bijaksana.

Ketika anak masih kecil, kita menggenggam erat agar mereka tidak terjatuh.

Namun seiring bertambahnya usia, kita belajar melonggarkan genggaman itu sedikit demi sedikit.

Bukan karena kita berhenti mencintai.

Melainkan karena kita sedang mengajarkan mereka berjalan dengan kakinya sendiri.

Ada saatnya kita tidak lagi dapat menyelesaikan semua masalah mereka.

Yang masih dapat kita lakukan adalah memastikan bahwa mereka selalu memiliki tempat untuk pulang, pelukan yang menerima mereka, dan doa yang tidak pernah berhenti mengiringi langkah mereka.

Menitipkan kepada Allah

Mungkin inilah doa yang diam-diam dipanjatkan oleh banyak orang tua setiap malam.

“Ya Allah…

Aku telah berusaha semampuku.

Ajari aku ketika harus berbicara dan ketika harus diam.

Kuatkan aku ketika harus melepaskan sedikit demi sedikit.

Dan ketika aku tidak lagi mampu menjaga anakku dengan tanganku, jagalah mereka dengan kasih sayang-Mu yang tidak pernah tidur.

Arahkan langkah mereka menuju kebaikan.

Lindungi iman mereka.

Selamatkan mereka dalam urusan dunia maupun akhirat.

Karena sesungguhnya, sejak awal mereka adalah titipan-Mu.”

Renungan Beranda Ande

Tidak ada orang tua yang mampu mengawasi anaknya setiap saat.

Namun ada satu penjagaan yang tidak pernah terputus.

Ketika tangan kita tidak lagi mampu menggenggam mereka, masih ada kasih sayang Allah yang tidak pernah lengah.

Barangkali, di situlah hati seorang ayah dan ibu akhirnya menemukan ketenangan.

Bukan karena semua kekhawatiran telah hilang.

Melainkan karena mereka percaya bahwa anak-anak yang mereka cintai sedang berada dalam penjagaan Zat yang jauh lebih mencintai mereka daripada diri mereka sendiri.


Referensi

  1. Al-Qur’an, QS. Az-Zumar [39]: 53.
  2. Al-Qur’an, QS. At-Tahrim [66]: 6.
  3. Hadis: “Ikatlah untamu, kemudian bertawakallah kepada Allah.” (HR. At-Tirmidzi No. 2517; dinilai hasan oleh banyak ulama).
  4. Ibn Rajab al-Hanbali. Jāmi’ al-‘Ulūm wa al-Hikam (penjelasan tentang tawakal dan ikhtiar).
  5. Al-Ghazali. Ihya’ ‘Ulum al-Din (pembahasan tentang tawakal dan adab seorang mukmin dalam berikhtiar).

Leave a Reply