Pernahkah kita bertanya-tanya mengapa satu ucapan yang menyakitkan bisa terus teringat, sementara puluhan perhatian dan pengorbanan seolah memudar?

Dalam kehidupan keluarga, hal ini sering terjadi. Seorang ayah atau ibu mungkin telah bekerja keras selama puluhan tahun, berusaha memenuhi kebutuhan anak-anaknya, selalu bertanya apakah mereka sudah makan, atau diam-diam membantu ketika mereka mengalami kesulitan. Namun, yang paling membekas dalam ingatan justru beberapa momen ketika orang tua sedang marah, terlalu keras, atau kurang bijaksana dalam menyampaikan maksudnya.

Fenomena ini bukan berarti anak tidak bersyukur. Bukan pula berarti semua kebaikan orang tua tidak berarti. Psikologi mengenal kecenderungan ini sebagai negativity bias.

Apa itu Negativity Bias?

Negativity bias adalah kecenderungan otak manusia untuk memberikan perhatian, bobot, dan daya ingat yang lebih besar terhadap pengalaman negatif dibandingkan pengalaman positif yang setara.

Dari sudut pandang evolusi, hal ini masuk akal. Mengingat bahaya membantu manusia bertahan hidup. Karena itu, otak kita secara alami lebih “siaga” terhadap pengalaman yang menyakitkan daripada pengalaman yang menyenangkan.

Akibatnya, satu pengalaman negatif dapat terasa jauh lebih kuat dibandingkan banyak pengalaman positif.

Mengapa Hal Ini Terjadi dalam Keluarga?

Dalam hubungan orang tua dan anak, kasih sayang sering diwujudkan melalui tindakan sehari-hari yang dianggap “biasa”.

Ayah bekerja setiap hari.

Ibu menyiapkan makanan.

Orang tua membayar biaya sekolah.

Menelepon untuk memastikan anak sudah makan.

Mengirim uang ketika anak sedang kesulitan.

Semua itu perlahan menjadi rutinitas sehingga tidak lagi terasa istimewa.

Sebaliknya, ketika terjadi pertengkaran, suara meninggi, atau kata-kata yang melukai hati, pengalaman tersebut membawa emosi yang jauh lebih kuat. Karena emosi memperkuat daya ingat, momen itulah yang sering lebih lama menetap dalam memori.

Dua Pengalaman yang Sama-Sama Nyata

Yang menarik, dalam sebuah keluarga bisa saja muncul dua cerita yang sama-sama benar.

Orang tua merasa,

“Aku sudah melakukan segalanya demi anak-anakku.”

Sementara anak merasa,

“Aku sering merasa takut atau tidak didengar.”

Kedua pengalaman tersebut dapat hidup berdampingan.

Mengakui pengalaman anak bukan berarti menghapus semua pengorbanan orang tua.

Sebaliknya, menghargai pengorbanan orang tua juga bukan berarti mengabaikan perasaan anak.

Hubungan yang sehat justru dimulai ketika kedua kenyataan itu diakui dengan jujur.

Apakah Kenangan Negatif Selalu Menentukan Masa Depan Hubungan?

Syukurlah, tidak.

Kenangan yang menyakitkan mungkin tetap ada. Kita tidak dapat menghapus masa lalu, dan bukan itu pula tujuannya. Yang dapat berubah adalah cara seseorang memahami dan memaknai pengalaman tersebut.

Dalam psikologi, proses ini dikenal antara lain sebagai reappraisal, yaitu menilai kembali suatu pengalaman dengan sudut pandang yang lebih luas, serta meaning-making, yaitu memberi makna baru terhadap pengalaman hidup. Dengan kata lain, seseorang tidak mengubah sejarah, tetapi pemahamannya terhadap sejarah itu dapat berkembang seiring bertambahnya usia, pengalaman, dan kedewasaan.

Sering kali, ketika anak mulai bekerja, membangun rumah tangga, atau menjadi orang tua, mereka mulai memahami beban dan tanggung jawab yang dahulu dipikul ayah dan ibunya. Peristiwa yang sama mungkin tetap diingat, tetapi maknanya tidak lagi sesederhana “Ayah hanya galak.” Muncul pemahaman baru bahwa di balik ketegasan itu mungkin ada rasa tanggung jawab, kekhawatiran, atau kasih sayang yang pada waktu itu belum mampu mereka lihat.

Sebaliknya, orang tua pun dapat membangun pengalaman baru bersama anak-anaknya melalui perhatian kecil, percakapan yang lebih hangat, kesediaan untuk mendengarkan, atau sekadar hadir dengan cara yang lebih mudah dirasakan.

Kenangan lama tidak hilang, tetapi tidak lagi menjadi satu-satunya lensa untuk memandang hubungan tersebut. Pengalaman-pengalaman baru dapat memperkaya cara seseorang memahami orang yang dicintainya.

Penutup

Mungkin kita tidak dapat menghapus semua kenangan yang menyakitkan.

Namun, kita masih dapat menciptakan kenangan-kenangan baru yang memberi ruang bagi pemahaman yang lebih utuh.

Hubungan keluarga tidak selalu berubah karena satu percakapan besar. Sering kali, perubahan justru lahir dari perhatian yang terus hadir, pengalaman-pengalaman kecil yang berulang, dan kesediaan untuk saling memahami dari waktu ke waktu.

Karena pada akhirnya, cinta dalam keluarga bukan hanya tentang apa yang pernah terjadi, tetapi juga tentang kesempatan untuk terus bertumbuh bersama selama waktu itu masih ada.


Referensi

  1. Baumeister, R. F., Bratslavsky, E., Finkenauer, C., & Vohs, K. D. (2001). Bad Is Stronger Than Good. Review of General Psychology, 5(4), 323–370.
  2. Rozin, P., & Royzman, E. B. (2001). Negativity Bias, Negativity Dominance, and Contagion. Personality and Social Psychology Review, 5(4), 296–320.
  3. Kahneman, D. (2011). Thinking, Fast and Slow. New York: Farrar, Straus and Giroux.
  4. Gross, J. J. (Ed.). (2014). Handbook of Emotion Regulation (2nd ed.). New York: Guilford Press. (Membahas cognitive reappraisal sebagai salah satu strategi regulasi emosi.)
  5. Park, C. L. (2010). Making Sense of the Meaning Literature: An Integrative Review of Meaning Making and Its Effects on Adjustment to Stressful Life Events. Psychological Bulletin, 136(2), 257–301.
  6. American Psychological Association (APA). Materi edukasi mengenai bias kognitif, regulasi emosi, dan proses pembentukan memori.

Leave a Reply