Kalau berbeda belum tentu berarti salah, lalu kapan perbedaan menjadi salah?

Kita hidup di tengah manusia yang berbeda-beda. Berbeda cara berpikir, kebiasaan, latar belakang, pengalaman, cara mengekspresikan perasaan, bahkan berbeda dalam memandang sesuatu yang bagi kita terasa sangat biasa.

Namun, ada satu hal yang sering terjadi tanpa kita sadari: ketika seseorang melakukan sesuatu yang berbeda dari cara kita, kita mudah sekali menilainya sebagai sesuatu yang aneh. Dan dari kata aneh, penilaian itu kadang bergerak lebih jauh menjadi salah.

Padahal, keduanya tidak selalu sama.

Sesuatu yang tidak biasa bagi kita belum tentu salah. Sesuatu yang tidak kita pahami belum tentu keliru. Bahkan sesuatu yang tidak akan pernah kita pilih untuk diri sendiri belum tentu merupakan pilihan yang salah bagi orang lain.

Mungkin karena itu, sebelum menilai seseorang, ada satu pertanyaan sederhana yang layak kita ajukan kepada diri sendiri:

Apakah ini memang salah, atau hanya berbeda dari caraku?

Berbeda belum tentu berarti salah

Kita semua memiliki standar pribadi yang terbentuk dari keluarga, pendidikan, pengalaman, lingkungan sosial, keyakinan, dan perjalanan hidup.

Tanpa sadar, standar tersebut sering menjadi semacam “penggaris” untuk mengukur orang lain.

Cara berpikirku terasa masuk akal.
Cara keluargaku terasa wajar.
Cara yang biasa kulakukan terasa normal.

Lalu ketika bertemu seseorang yang melakukan sesuatu dengan cara yang berbeda, kita bertanya-tanya:

“Kok begitu?”

Pertanyaan itu sebenarnya wajar. Yang perlu diperhatikan adalah apa yang terjadi setelahnya.

Apakah kita berhenti pada:

“Aku tidak mengerti.”

atau segera melompat menjadi:

“Dia salah.”

Kedua kalimat tersebut sangat berbeda.

“Aku tidak mengerti” mengakui keterbatasan pengetahuan kita.

“Dia salah” adalah sebuah penilaian.

Masalahnya, kita sering membuat penilaian sebelum memiliki cukup informasi untuk menilai.

Kita sering menganggap sesuatu salah bukan karena kita memiliki bukti bahwa itu salah, tetapi karena kita tidak terbiasa dengannya atau tidak memahaminya.

Jangan jadikan ketidakpahaman kita sebagai bukti kesalahan orang lain.

Hidup Bersama Berarti Hidup dengan Perbedaan

Kita tidak hidup sendirian.

Sebagai manusia, kita adalah makhluk sosial. Kita hidup bersama orang lain, membangun keluarga, berteman, bekerja, bertetangga, dan berinteraksi dengan orang-orang yang memiliki latar belakang serta pengalaman yang berbeda dari kita.

Artinya, sepanjang hidup, kita akan terus berhadapan dengan perbedaan.

Kita berbeda dalam cara berpikir, kebiasaan, cara mengambil keputusan, cara mengekspresikan emosi, cara menunjukkan kasih sayang, bahkan dalam menentukan apa yang kita anggap normal.

Perbedaan tersebut bukan sesuatu yang bisa kita hindari. Ia merupakan bagian dari kehidupan bersama.

Karena itu, kemampuan menyikapi perbedaan bukan sekadar persoalan bagaimana kita menilai seseorang. Ia juga merupakan bagian dari bagaimana kita hidup sebagai manusia di tengah manusia lainnya.

Bayangkan jika setiap hal yang berbeda dari kebiasaan kita langsung dianggap salah.

Cara seseorang berpikir dianggap salah karena tidak seperti kita.

Cara seseorang menunjukkan kasih sayang dianggap salah karena berbeda dari cara kita.

Cara seseorang mengambil keputusan dianggap tidak masuk akal hanya karena kita tidak akan memilih cara yang sama.

Jika setiap perbedaan diperlakukan seperti sebuah kesalahan, kehidupan sosial akan dipenuhi konflik yang sebenarnya tidak perlu.

Mungkin karena itu, hidup bersama membutuhkan kemampuan untuk membedakan dua hal yang sering tercampur:

“Ini berbeda dari caraku.”

dan

“Ini memang salah.”

Keduanya tidak selalu sama.

Kita tidak pernah mengetahui seluruh cerita seseorang

Dalam psikologi sosial dikenal istilah fundamental attribution error, yaitu kecenderungan manusia untuk menjelaskan perilaku orang lain terutama berdasarkan sifat atau karakter orang tersebut, sementara kita sering mengabaikan situasi yang mungkin memengaruhi perilakunya.

Seseorang terlambat, kita berpikir ia tidak disiplin.

Seseorang tidak banyak bicara, kita menganggap ia sombong.

Seseorang mengambil keputusan yang tidak kita pahami, kita menganggap ia tidak masuk akal.

Padahal kita tidak tahu apa yang terjadi di balik perilaku tersebut.

Mungkin ada kondisi yang tidak kita ketahui. Mungkin ada pengalaman yang membentuk cara berpikirnya. Mungkin ada pertimbangan yang tidak pernah sampai kepada kita.

Bukan berarti semua perilaku harus dibenarkan.

Tetapi sebelum menilai, kita perlu menyadari bahwa informasi kita mungkin belum lengkap.

Kesadaran semacam ini disebut epistemic humility—kerendahan hati intelektual. Kita mengakui bahwa pengetahuan dan pemahaman kita memiliki batas.

Dan menurutku, di sinilah tawadhu’ menemukan salah satu bentuk praktisnya.

Tawadhu’ bukan berarti menganggap diri kita bodoh atau selalu salah. Tawadhu’ berarti kita tidak menempatkan diri sebagai orang yang selalu paling tahu.

Kita bisa saja memiliki pengetahuan yang kuat dan tetap berkata dalam hati:

“Mungkin ada sesuatu yang belum aku ketahui.”

Tetapi apakah semua perbedaan harus diterima?

Tidak.

Di sinilah kita perlu berhati-hati agar tidak jatuh ke dalam pemikiran bahwa “setiap orang punya caranya sendiri, jadi semuanya benar.”

Tidak demikian.

Perbedaan menjadi persoalan ketika yang berbeda itu bukan lagi sekadar pilihan, perspektif, atau cara hidup yang sah, melainkan bertentangan dengan nilai, agama, etika, hak orang lain, atau menimbulkan dampak yang merugikan.

Ada perbedaan yang memang merupakan bagian dari keberagaman manusia. Tetapi ada pula perilaku yang tidak lagi dapat ditempatkan sekadar sebagai perbedaan karena memiliki konsekuensi terhadap nilai yang kita junjung, hak orang lain, atau kehidupan bersama.

Karena itu, pertanyaannya bukan:

“Apakah aku suka atau tidak suka?”

melainkan:

“Apakah ini memang salah menurut ukuran yang dapat dipertanggungjawabkan?”

Di sinilah adil bekerja.

Adil berarti tidak menggunakan diri sendiri sebagai satu-satunya ukuran. Kita membutuhkan ukuran yang lebih objektif: fakta, konteks, nilai agama, etika, hak orang lain, dan akibat dari suatu tindakan.

Dengan demikian, kita bisa membedakan:

berbeda dari kita
dengan
memang salah.

Keduanya tidak boleh dicampuradukkan.

Al-Qur’an mengajarkan kehati-hatian dalam menilai

Islam sendiri mengajarkan agar manusia tidak tergesa-gesa dalam membuat penilaian.

Allah berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari prasangka. Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa…”
— QS. Al-Hujurat: 12

Ayat ini tidak mengatakan bahwa semua dugaan pasti salah. Tetapi ia mengingatkan kita agar tidak menjadikan prasangka sebagai dasar penilaian terhadap orang lain.

Dalam ayat lain, Allah juga berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu seorang fasik membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya…”
— QS. Al-Hujurat: 6

Ada prinsip yang sangat kuat di sini: periksa terlebih dahulu sebelum mengambil kesimpulan.

Dalam kehidupan sehari-hari, prinsip tersebut bisa diterapkan bukan hanya pada berita, tetapi juga pada perilaku manusia.

Kita melihat sesuatu.
Kita merasa sesuatu itu aneh.
Kita belum memahami alasannya.

Maka jangan buru-buru mengubah ketidakpahaman menjadi penghakiman.

Logika membantu kita berlaku adil

Di sinilah logika mempunyai tempat yang penting.

Logika bukan sekadar kemampuan berdebat atau menemukan siapa yang menang dalam sebuah argumen.

Dalam kehidupan sosial, logika membantu kita mengajukan pertanyaan yang lebih sehat:

Apa faktanya?

Apa konteksnya?

Apa alasan di balik tindakan itu?

Apakah ada bukti bahwa tindakan tersebut memang salah?

Apakah aku sedang menilainya karena memang salah, atau karena aku tidak terbiasa dengannya?

Apakah standar yang kupakai berlaku secara konsisten juga untuk diriku sendiri?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut membantu kita keluar dari penilaian yang terlalu cepat.

Dalam psikologi, kita juga mengenal confirmation bias, yaitu kecenderungan manusia mencari atau memperhatikan informasi yang menguatkan apa yang sudah lebih dahulu dipercayainya.

Kalau sejak awal kita sudah menganggap seseorang aneh, kita cenderung lebih mudah melihat perilaku-perilaku yang mendukung anggapan itu.

Sebaliknya, informasi yang bertentangan dengan penilaian kita bisa saja kita abaikan.

Karena itu, menggunakan logika dengan baik berarti bersedia menguji kesimpulan kita sendiri.

Bukan hanya mencari bukti bahwa kita benar, tetapi juga bersedia mencari kemungkinan bahwa kita keliru.

Itulah salah satu bentuk keadilan kepada orang lain.

Hati membantu kita tetap menjadi manusia

Namun, logika saja belum cukup.

Kita bisa memiliki argumen yang sangat kuat tetapi menyampaikannya dengan cara yang merendahkan orang lain.

Kita bisa menemukan kesalahan seseorang tetapi kehilangan empati terhadap manusia yang melakukan kesalahan tersebut.

Kita bisa benar dalam isi, tetapi salah dalam cara.

Di sinilah hati berperan.

Hati mengingatkan bahwa orang yang sedang kita nilai bukan sekadar sebuah perilaku atau sebuah argumen. Ia adalah manusia yang memiliki pengalaman, perasaan, keterbatasan, dan martabat.

Karena itu, tawadhu’ melengkapi keadilan.

Kita menilai dengan jernih, tetapi tidak merasa lebih tinggi.

Kita menemukan kesalahan, tetapi tidak merasa berhak merendahkan.

Kita berbeda pendapat, tetapi tidak harus menghilangkan penghormatan kepada orangnya.

Bahkan ketika kita harus mengatakan bahwa sesuatu itu salah, cara kita menyampaikannya tetap penting.

Terhadap orang lain, kita tidak harus mengomentari semuanya

Ada perbedaan antara orang yang sekadar kita jumpai dalam kehidupan sosial dan orang yang memiliki hubungan dekat dengan kita.

Tidak setiap hal yang menurut kita aneh perlu dikomentari.

Orang lain mempunyai ruang untuk menjalani hidupnya selama pilihan tersebut tidak melanggar nilai yang semestinya dihormati atau merugikan orang lain.

Mungkin kita tidak menyukai caranya berpakaian.

Mungkin kita tidak memahami hobinya.

Mungkin cara berpikirnya berbeda.

Mungkin cara ia mengambil keputusan tidak akan pernah menjadi pilihan kita.

Kalau semuanya berada dalam wilayah yang sah, kita tidak harus menjadikan perbedaan itu sebagai persoalan.

Tidak semua perbedaan membutuhkan koreksi.

Kadang-kadang yang dibutuhkan hanyalah penerimaan bahwa manusia memang tidak diciptakan untuk menjadi seragam.

Al-Qur’an sendiri menyebutkan:

“Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan. Kemudian Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.”
— QS. Al-Hujurat: 13

Perbedaan bukan alasan untuk saling merendahkan. Perbedaan justru merupakan bagian dari kenyataan kehidupan manusia.

Tetapi terhadap keluarga, kita boleh bertanya

Situasinya berbeda ketika kita berbicara tentang orang-orang yang dekat dengan kita—suami, anak, atau anggota keluarga yang hubungan dan kehidupannya memang menjadi bagian dari tanggung jawab kita.

Ketika kita melihat sesuatu yang menurut kita tidak tepat, diam bukan selalu pilihan terbaik.

Kita bisa bertanya:

“Kenapa kamu begitu?”

Tetapi pertanyaan tersebut dapat memiliki dua wajah.

Ia bisa menjadi tuduhan:

“Kenapa sih kamu begitu? Kamu salah.”

Atau bisa menjadi upaya memahami:

“Aku melihat kamu melakukan ini. Aku ingin mengerti, apa alasanmu?”

Keduanya menggunakan kalimat yang hampir sama, tetapi memiliki niat yang sangat berbeda.

Dengan bertanya, kita memberi kesempatan kepada orang lain untuk menjelaskan sesuatu yang mungkin belum kita ketahui.

Setelah itu, barulah kita memiliki informasi yang lebih lengkap untuk menilai.

Kalau ternyata memang ada yang salah, kita bisa membicarakannya dan mencari jalan untuk memperbaikinya.

Tetapi kalau ternyata orang tersebut mempunyai alasan yang sah secara agama, sosial, maupun berdasarkan konteks kehidupannya, mungkin kita perlu menerima bahwa perbedaan itu memang bukan kesalahan.

Memahami tidak selalu berarti menyetujui

Ini juga penting.

Memberi kesempatan kepada seseorang untuk menjelaskan bukan berarti kita harus menyetujui semua alasannya.

Memahami seseorang tidak sama dengan membenarkan semua tindakannya.

Kita bisa memahami mengapa seseorang mengambil keputusan tertentu dan tetap tidak menyetujui keputusan tersebut.

Sebaliknya, kita juga bisa tidak menyukai sebuah pilihan tetapi menyadari bahwa pilihan itu sah dan bukan sesuatu yang perlu kita koreksi.

Kemampuan membedakan kedua hal ini merupakan bagian dari kematangan dalam hubungan sosial.

Hati yang baik bukan hati yang selalu membenarkan

Di sinilah pembahasan ini kembali kepada tulisan sebelumnya tentang baik hati.

Baik hati bukan berarti selalu mengatakan:

“Tidak apa-apa.”

Baik hati juga bukan berarti selalu membela orang lain.

Dan baik hati bukan berarti tidak boleh menilai.

Justru, seperti yang kita bahas sebelumnya, baik hati terwujud dalam keadilan dan tawadhu’.

Keadilan membuat kita berani mengatakan bahwa sesuatu memang salah ketika memang salah.

Tawadhu’ membuat kita cukup rendah hati untuk tidak menganggap semua yang berbeda dari kita sebagai kesalahan.

Keduanya harus berjalan bersama.

Tanpa keadilan, kebaikan hati bisa berubah menjadi permisif.

Tanpa tawadhu’, keadilan bisa berubah menjadi penghakiman.

Karena itu, sikap yang baik membutuhkan keduanya.

Logika dan hati yang ditempatkan pada tempatnya

Pada akhirnya, ketika kita menghadapi perbedaan, logika dan hati mempunyai peran masing-masing.

Logika membantu kita menilai.

Ia bertanya tentang fakta, alasan, konteks, konsistensi, dan akibat.

Hati membantu kita tetap manusiawi dalam memahami.

Ia mengingatkan kita bahwa yang sedang kita nilai adalah manusia, bukan sekadar sebuah persoalan yang harus dimenangkan.

Logika menjaga kita agar tidak larut dalam prasangka.

Hati menjaga kita agar tidak menjadi dingin dalam menggunakan logika.

Logika membantu melahirkan adil.

Hati membantu menumbuhkan tawadhu’.

Dan ketika keduanya bekerja dengan baik, kita mempunyai peluang lebih besar untuk menyikapi perbedaan dengan cara yang matang.

Sebelum mengatakan “salah”, mungkin kita perlu bertanya

Mungkin kita tidak akan pernah benar-benar bebas dari penilaian terhadap orang lain. Manusia memang perlu membedakan mana yang benar dan mana yang salah.

Yang perlu kita latih adalah cara sampai kepada penilaian tersebut.

Ketika seseorang berbeda dari kita, mungkin kita bisa berhenti sejenak dan bertanya:

Apakah ini benar-benar salah?

Atau hanya berbeda dari apa yang biasa kulakukan?

Apakah aku sudah mengetahui seluruh konteksnya?

Apakah aku sedang menilai berdasarkan fakta atau prasangka?

Apakah ukuran yang kugunakan benar-benar adil?

Dan yang tidak kalah penting:

Apakah aku cukup rendah hati untuk menerima kemungkinan bahwa penilaianku sendiri belum lengkap?

Barangkali di situlah salah satu bentuk kebaikan hati yang paling nyata.

Bukan sekadar bersikap lembut kepada orang lain, tetapi memberikan kepada mereka keadilan untuk dinilai secara utuh dan kerendahan hati kita sendiri untuk mengakui bahwa kita tidak selalu tahu.

Sebab pada akhirnya:

Berbeda belum tentu salah.

Dan ketika sesuatu memang salah, kita pun tidak perlu kehilangan kebaikan hati untuk mengatakannya.


Referensi Agama & Teoritis

Perspektif Islam

1. QS. Al-Hujurat: 6 — Tabayyun

“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu seorang fasik membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya…”

Ayat ini menjadi landasan penting bagi sikap tidak tergesa-gesa dalam menerima informasi dan mengambil kesimpulan. Dalam konteks hubungan sosial, prinsip tabayyun dapat diterapkan dengan memeriksa informasi dan konteks sebelum menjadikan sesuatu sebagai dasar penilaian terhadap orang lain.

2. QS. Al-Hujurat: 12 — Menghindari prasangka

“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari prasangka. Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa…”

Ayat ini mengingatkan bahwa prasangka tidak boleh dengan mudah berubah menjadi kesimpulan tentang seseorang. Kita perlu membedakan antara apa yang benar-benar kita ketahui dan apa yang hanya kita duga.

3. QS. Al-Hujurat: 13 — Keberagaman manusia

“Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan. Kemudian Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.”

Keberagaman merupakan bagian dari kehidupan manusia. Perbedaan bukan dengan sendirinya merupakan kesalahan, melainkan sesuatu yang perlu disikapi dengan saling mengenal dan menghormati.

4. QS. An-Nisa: 135 — Keadilan

“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang-orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, sekalipun terhadap dirimu sendiri atau terhadap kedua orang tua dan kaum kerabatmu…”

Ayat ini memperkuat gagasan bahwa keadilan tidak boleh bergantung pada kedekatan, kesukaan, atau kepentingan pribadi. Dalam menilai suatu perbedaan, ukuran yang digunakan harus dapat dipertanggungjawabkan, bukan sekadar berdasarkan standar pribadi.

Dalam perspektif Islam, kehati-hatian dalam menilai, menjauhi prasangka, menghormati keberagaman, dan menegakkan keadilan merupakan prinsip yang saling melengkapi.


Perspektif Psikologi dan Ilmu Perilaku

Fundamental Attribution Error
Ross (1977) memperkenalkan konsep fundamental attribution error, yaitu kecenderungan manusia untuk terlalu menekankan faktor internal—seperti karakter atau sifat—ketika menjelaskan perilaku orang lain, sementara pengaruh situasi sering kurang diperhatikan.

Konsep ini relevan dengan kecenderungan kita mengubah perilaku yang tidak kita pahami menjadi penilaian terhadap karakter seseorang.

Confirmation Bias
Confirmation bias merujuk pada kecenderungan untuk mencari, memperhatikan, atau menafsirkan informasi dengan cara yang mendukung keyakinan yang sudah kita miliki.

Dalam konteks perbedaan, ketika kita sejak awal sudah menganggap seseorang “aneh”, kita dapat menjadi lebih peka terhadap hal-hal yang memperkuat penilaian tersebut dan kurang memperhatikan informasi yang bertentangan.

Epistemic Humility
Epistemic humility atau kerendahan hati intelektual adalah kesadaran bahwa pengetahuan dan pemahaman kita memiliki keterbatasan. Sikap ini tidak mengharuskan seseorang selalu meragukan dirinya sendiri, tetapi mendorong kesediaan untuk mengakui bahwa mungkin masih ada informasi atau perspektif yang belum diketahui.

Konsep ini menjadi landasan penting bagi sikap:

“Mungkin ada sesuatu yang belum aku ketahui.”

Perspective-taking
Dalam psikologi sosial, perspective-taking merujuk pada kemampuan untuk mencoba memahami pengalaman, sudut pandang, atau keadaan orang lain.

Kemampuan ini tidak berarti harus menyetujui orang lain. Ia membantu kita memahami bahwa perilaku seseorang mungkin memiliki konteks yang berbeda dari apa yang kita lihat dari luar.

Dengan demikian, memahami tidak sama dengan membenarkan.


Catatan penting

Istilah adil dan tawadhu’ dalam tulisan ini merupakan kerangka nilai keagamaan, sedangkan logika dan hati digunakan sebagai cara sederhana untuk menggambarkan dua fungsi yang saling melengkapi dalam menyikapi perbedaan.

Logika membantu kita memeriksa fakta, konteks, alasan, dan konsekuensi sebelum mengambil kesimpulan.

Hati membantu kita tetap menyadari bahwa objek penilaian kita adalah manusia yang memiliki martabat, pengalaman, dan keterbatasan.

Keduanya bukan konsep psikologi yang secara formal identik dengan “adil” dan “tawadhu’”. Hubungan tersebut merupakan sintesis pemikiran dalam artikel ini: keadilan membutuhkan penilaian yang jernih, sementara tawadhu’ membutuhkan kesadaran bahwa pemahaman kita mungkin tidak lengkap.


RENUNGAN BERANDA ANDE

Kadang-kadang aku bertanya-tanya, berapa banyak orang yang pernah kuanggap aneh hanya karena aku tidak memahami mereka?

Mungkin tidak sedikit.

Sebab aku pun manusia. Aku punya pengalaman, kebiasaan, nilai, dan cara pandang yang selama ini terasa begitu wajar bagiku. Tanpa sadar, semua itu bisa menjadi penggaris untuk mengukur orang lain.

Padahal, orang lain tidak hidup dengan penggarisku.

Hari ini aku belajar untuk sedikit lebih berhati-hati.

Ketika melihat sesuatu yang berbeda, aku tidak harus langsung menyukainya. Aku juga tidak harus menyetujuinya.

Tetapi mungkin aku bisa berhenti sejenak dan bertanya:

“Ini memang salah, atau hanya bukan caraku?”

Kalau aku belum tahu, mungkin aku bisa bertanya.

Kalau aku belum memahami, mungkin aku bisa mendengarkan.

Kalau ternyata memang salah, aku tetap bisa mengatakan bahwa itu salah—tanpa harus merasa lebih tinggi daripada orang yang melakukannya.

Dan kalau ternyata tidak salah, mungkin aku hanya perlu belajar menerima bahwa manusia memang tidak diciptakan untuk menjadi seragam.

Bagiku, mungkin inilah salah satu bentuk baik hati yang sebenarnya:

adil dalam menilai, tawadhu’ dalam memahami, dan tetap manusiawi ketika harus berbeda.

Karena mungkin menjadi orang baik bukan tentang selalu mengatakan bahwa orang lain benar.

Kadang-kadang, menjadi orang baik adalah cukup rendah hati untuk tidak buru-buru mengatakan bahwa orang lain salah.


Catatan Penulis

Tulisan ini merupakan kelanjutan dari pembahasan mengenai baik hati, yang sebelumnya dipahami sebagai sikap yang terwujud melalui adil dan tawadhu’.

Kali ini, gagasan tersebut ditempatkan dalam konteks yang lebih praktis: bagaimana menyikapi perbedaan.

Tidak semua yang berbeda dari kita adalah salah. Namun, menerima perbedaan juga tidak berarti menganggap semua perilaku benar. Karena itu, tulisan ini mencoba membedakan antara ketidaksukaan, ketidakbiasaan, perbedaan perspektif, dan kesalahan yang memang memiliki dasar untuk dinilai sebagai salah.

Beberapa konsep psikologi dan ilmu perilaku digunakan sebagai perspektif untuk memahami kecenderungan manusia dalam menilai orang lain, terutama fundamental attribution error, confirmation bias, epistemic humility, dan perspective-taking.

Sementara itu, prinsip-prinsip keagamaan dalam tulisan ini merujuk terutama pada Al-Qur’an, antara lain QS. Al-Hujurat: 6, 12, dan 13 serta QS. An-Nisa: 135, yang berbicara tentang kehati-hatian dalam menerima informasi, menjauhi prasangka, keberagaman manusia, dan keadilan.

Tulisan ini tidak bermaksud menyamakan konsep psikologi dengan konsep keagamaan. Keduanya digunakan sebagai dua sudut pandang yang dapat saling memperkaya pemahaman.

Gagasan mengenai logika dan hati sebagai penerapan praktis dari adil dan tawadhu’ merupakan sintesis pemikiran dalam tulisan ini. Logika ditempatkan sebagai alat untuk membantu kita menilai dengan lebih jernih, sementara hati mengingatkan kita untuk tetap rendah hati dan manusiawi ketika berhadapan dengan orang yang berbeda.

Pada akhirnya, tujuan tulisan ini bukan mengajak kita berhenti membedakan benar dan salah, melainkan mengajak kita lebih bertanggung jawab dalam proses menentukan apa yang benar-benar salah.

Referensi Utama

  • Al-Qur’an, QS. Al-Hujurat: 6, 12, 13.
  • Al-Qur’an, QS. An-Nisa: 135.
  • Ross, L. (1977). The intuitive psychologist and his shortcomings: Distortions in the attribution process. In L. Berkowitz (Ed.), Advances in Experimental Social Psychology, Vol. 10.
  • Nickerson, R. S. (1998). Confirmation bias: A ubiquitous phenomenon in many guises. Review of General Psychology, 2(2), 175–220.
  • Tanesini, A. (2021). The Mismeasure of the Self: A Study in Vice Epistemology. Oxford University Press.
  • Galinsky, A. D., & Moskowitz, G. B. (2000). Perspective-taking: Decreasing stereotype expression, stereotype accessibility, and in-group favoritism. Journal of Personality and Social Psychology, 78(4), 708–724.

Leave a Reply