Belakangan ini, AI (Artificial Intelligence) semakin dekat dengan kehidupan kita. Ada yang menyambutnya dengan antusias dan rasa ingin tahu, ada yang mengkhawatirkannya, bahkan ada yang menganggap karya yang dibuat dengan bantuan AI bukan lagi karya manusia.
Mungkin sebagian dari kita pernah mendengar kalimat-kalimat seperti itu.
Tapi sebenarnya, apa sih AI itu?
Dan mengapa teknologi ini tiba-tiba begitu dekat dengan kehidupan kita?
AI itu apa?
Secara sederhana, AI adalah teknologi yang memungkinkan komputer melakukan berbagai hal yang selama ini kita anggap membutuhkan kemampuan manusia—misalnya memahami bahasa, mengenali gambar, menganalisis informasi, membuat tulisan, menghasilkan gambar, membantu membuat musik, menerjemahkan bahasa, dan banyak lagi.
Kita mungkin tidak menyadarinya, tetapi AI sebenarnya sudah cukup lama berada di sekitar kita.
Ketika sebuah aplikasi memberikan rekomendasi film yang mungkin kita sukai, ketika mesin pencari memahami maksud pertanyaan kita, atau ketika ponsel mengenali wajah kita, kita sudah berinteraksi dengan teknologi yang menggunakan AI.
Yang berubah sekarang adalah AI semakin mudah digunakan oleh orang biasa.
Kita tidak harus menjadi programmer.
Kita tidak harus memahami bagaimana sebuah algoritma bekerja.
Kita bahkan tidak harus mengerti teknologi secara mendalam.
Kita cukup tahu apa yang ingin kita lakukan, lalu menggunakan alat yang tersedia untuk membantu kita melakukannya.
Dan menurut saya, di sinilah menariknya.
AI adalah alat
Bayangkan seorang pelukis.
Ia memiliki kanvas, cat, dan kuas.
Semua orang sebenarnya bisa membeli kanvas dan kuas yang sama. Tetapi apakah semua orang akan menghasilkan lukisan yang indah?
Tentu tidak.
Begitu pula dengan mesin jahit.
Mesin jahit dapat dibeli banyak orang. Tetapi memiliki mesin jahit tidak otomatis membuat seseorang menjadi perancang busana.
Atau sebuah kamera.
Kamera yang sama dapat digunakan oleh seratus orang. Hasilnya bisa seratus macam.
Karena alat bukanlah karya.
Alat membantu manusia menghasilkan karya.
AI pun demikian.
AI adalah alat.
Ia bisa membantu kita menulis, menggambar, membuat musik, merangkum informasi, menerjemahkan, mencari ide, bahkan membantu menyelesaikan pekerjaan tertentu.
Tetapi apa yang ingin kita buat, mengapa kita membuatnya, bagaimana kita mengarahkannya, mana hasil yang kita pilih, mana yang kita buang, dan apa yang ingin kita sampaikan kepada orang lain—semua itu tetap membutuhkan manusia.
“Tapi kalau pakai AI, berarti bukan karya kita?”
Pertanyaan ini menarik.
Jawabannya mungkin tergantung pada bagaimana kita menggunakan AI.
Kalau kita hanya meminta AI membuat sesuatu, menerima hasil pertama, lalu mengaku bahwa seluruh proses kreatif itu kita kerjakan sendiri, tentu ada persoalan kejujuran di sana.
Tetapi bagaimana jika seseorang memiliki gagasan, pengalaman, cerita, atau perasaan yang ingin disampaikan, lalu menggunakan AI sebagai alat untuk membantu mewujudkannya?
Apakah kemudian gagasan itu menjadi tidak berarti?
Menurut saya, tidak.
Seorang penulis dapat menggunakan aplikasi pengolah kata.
Seorang fotografer menggunakan kamera dan perangkat lunak pengolah foto.
Seorang desainer menggunakan software desain.
Seorang musisi menggunakan alat musik elektronik, perangkat rekaman, dan berbagai software.
Teknologi tidak membuat manusia berhenti menjadi kreator.
Teknologi mengubah cara manusia menciptakan sesuatu.
Dan AI sedang melakukan hal yang sama—hanya saja dalam skala yang jauh lebih besar.
Tidak semua orang akan menghasilkan hal yang sama
Ini bagian yang sering terlupakan ketika kita mengatakan, “AI itu gampang.”
Ya, menggunakan AI mungkin semakin mudah.
Tetapi menghasilkan sesuatu yang bagus belum tentu mudah.
Coba berikan alat AI yang sama kepada seratus orang.
Hasilnya tidak akan sama.
Ada yang hanya mendapatkan hasil biasa-biasa saja.
Ada yang mendapatkan sesuatu yang menarik.
Ada pula yang mampu menghasilkan sesuatu yang terasa sangat personal dan memiliki karakter.
Mengapa?
Karena orang yang menggunakan alat tersebut membawa sesuatu dari dirinya sendiri: pengalaman, selera, pengetahuan, imajinasi, kepekaan, dan kemampuan memilih.
AI dapat memberikan banyak kemungkinan.
Tetapi seseorang tetap harus menentukan:
“Yang mana yang benar-benar saya inginkan?”
Di situlah manusia masih mempunyai peranan yang sangat penting.
Justru orang awam yang mungkin paling banyak terbantu
Bagi saya, salah satu hal paling menarik dari AI bukan hanya kemampuannya menghasilkan sesuatu dengan cepat.
Yang lebih menarik adalah AI dapat membuka pintu bagi orang-orang yang sebelumnya merasa tidak mampu.
Ada orang yang punya cerita tetapi sulit menulis.
Ada orang yang memiliki gagasan desain, tetapi tidak memiliki kemampuan menggambar atau menguasai perangkat lunak desain. Selama ini, gagasan tersebut mungkin hanya tersimpan di dalam pikirannya, atau harus diwujudkan dengan bantuan orang lain.
Kemajuan teknologi, terutama AI, mulai mengubah keadaan itu. Dengan sebuah laptop atau bahkan telepon genggam, seseorang kini dapat menuangkan gagasannya melalui kata-kata dan melihatnya diterjemahkan menjadi gambar.
Ia tidak serta-merta menjadi desainer profesional, tetapi ia memiliki sebuah alat baru untuk mulai mewujudkan apa yang sebelumnya hanya ada dalam pikirannya.
Ada orang yang suka musik tetapi tidak bisa memainkan alat musik.
Ada orang yang punya banyak pertanyaan tetapi tidak tahu harus mencari jawabannya di mana.
AI dapat menjadi jembatan.
Bukan berarti manusia tiba-tiba menjadi ahli.
Tetapi manusia mendapatkan alat bantu untuk mulai mencoba.
Teknologi tidak selalu membuat manusia menjadi lebih pintar. Kadang, teknologi membuat keterbatasan teknis yang selama ini menghalangi sebuah gagasan menjadi lebih mudah ditembus.
Dan menurut saya, ini penting.
Teknologi seharusnya tidak hanya dinikmati oleh orang yang sudah pintar.
Justru teknologi yang baik adalah teknologi yang dapat membuat lebih banyak orang merasa, “Oh, ternyata aku juga bisa.”
Tentu saja, AI bukan tanpa masalah
Bukan berarti kita harus menerima semua hal tentang AI tanpa berpikir kritis.
Ada persoalan hak cipta, privasi, penyalahgunaan teknologi, informasi palsu, pekerjaan manusia yang mungkin berubah, dan berbagai persoalan etika lainnya.
Semua itu perlu dibicarakan.
Tetapi memahami persoalan AI tidak sama dengan membenci AI.
Kita bisa berhati-hati tanpa menjadi takut.
Kita bisa kritis tanpa mencibir.
Dan kita bisa menggunakan teknologi sambil tetap mempertahankan tanggung jawab sebagai manusia.
Kita tidak bisa menghentikan perubahan
Teknologi akan terus berkembang, apakah kita siap atau tidak.
Mungkin beberapa tahun lagi AI akan terasa jauh lebih biasa daripada sekarang.
Anak-anak kita akan tumbuh dengan teknologi yang bagi kita terasa luar biasa, tetapi bagi mereka mungkin sama biasanya dengan menggunakan telepon atau mesin pencari.
Karena itu, mungkin pertanyaan yang lebih berguna bukan:
“Bagaimana supaya AI tidak masuk ke kehidupan kita?”
Melainkan:
“Bagaimana kita menggunakan AI dengan bijak?”
Apa yang kita serahkan kepada AI?
Apa yang tetap harus kita kerjakan sendiri?
Apa yang perlu kita periksa kembali?
Apa yang boleh dibantu AI?
Dan yang paling penting:
Apa yang tetap ingin kita pertahankan sebagai sesuatu yang manusiawi?
Pada akhirnya, alat tetaplah alat
Saya kira kita tidak perlu terlalu takut pada sebuah alat.
Pisau dapat digunakan untuk memasak, tetapi juga dapat disalahgunakan.
Internet dapat digunakan untuk belajar, tetapi juga dapat digunakan untuk menyebarkan kebohongan.
Kamera dapat digunakan untuk membuat karya, tetapi juga dapat digunakan untuk hal yang tidak baik.
Begitu pula AI.
Nilai sebuah alat sangat dipengaruhi oleh manusia yang menggunakannya.
AI bisa membantu kita membuat sesuatu dengan lebih cepat.
Tetapi belum tentu AI tahu mengapa sesuatu itu perlu dibuat.
AI bisa membantu menghasilkan ribuan kemungkinan.
Tetapi manusia tetap perlu memilih mana yang memiliki makna.
AI bisa membantu kita menemukan kata-kata.
Tetapi perasaan yang ingin kita sampaikan berasal dari pengalaman kita sendiri.
Mungkin karena itu, saya tidak melihat AI sebagai lawan manusia.
Saya melihatnya sebagai salah satu alat baru yang sedang diberikan kepada kita.
Dan seperti semua alat sebelumnya, kita memiliki pilihan:
mengabaikannya, takut kepadanya, menyalahgunakannya, atau belajar menggunakannya dengan bijaksana.
Tidak semua orang harus menjadi ahli AI.
Tidak semua orang bahkan harus menyukai AI.
Tetapi menurut saya, kita layak memahaminya sebelum memutuskan untuk menolaknya.
Sebab bisa jadi, di balik teknologi yang awalnya terasa asing itu, ada sebuah pintu yang selama ini tidak pernah kita tahu bahwa kita bisa membukanya.
