Menyebut brand dalam konten diperbolehkan dengan memperhatikan beberapa hal supaya aman dan profesional.


1️⃣ Secara umum: Menyebut merek itu legal

Boleh menyebut nama brand di website selama:

  • Tidak mengaku sebagai pemilik brand tersebut
  • Tidak memakai logo/visual resmi tanpa izin
  • Tidak menyesatkan (misalnya seolah-olah kerja sama resmi padahal tidak)

Contoh yang aman:

“Desain ini menggunakan sanitary Toto dan keramik Roman untuk kesan minimalis modern.”

Itu sah karena hanya menyebut sebagai referensi.


2️⃣ Yang perlu hati-hati

⚠️ a. Logo & gambar resmi brand

Kalau ambil logo dari Google dan tempel di web → itu bisa melanggar hak cipta.
Kecuali:

  • Memang partner resmi
  • Atau ada izin tertulis

⚠️ b. Affiliate link

Kalau dapat komisi (misalnya dari Coohom atau brand lain), secara etika dan regulasi sebaiknya tulis disclaimer:

“Beberapa link mungkin merupakan link afiliasi.”

Ini bikin terlihat profesional dan transparan.

⚠️ c. Review yang menjatuhkan

Kalau menyebut brand dalam konteks kritik, pastikan:

  • Faktual
  • Tidak menyerang
  • Tidak opini kasar

3️⃣ Untuk konteks seperti website Beranda Ande (My Personal Notes & konten rumah)

Justru menyebut brand bisa jadi nilai tambah karena:

  • Konten menjadi lebih konkret
  • Audiens lebih percaya
  • Bisa jadi pintu kerja sama ke depan

Misalnya:

“Aku memilih lampu Philips Warm White 2700K karena efeknya bikin suasana ruang terasa lebih hangat.”

Itu bukan iklan. Itu sharing pengalaman desain.

Dan kalau suatu hari brand melihat websitemu?
Itu bisa jadi portfolio kredibilitas kamu.


4️⃣ Kapan sebaiknya tidak menyebut brand?

Ketika kita sedang membangun konsep besar / filosofis / rasa (yang lebih timeless), kadang lebih kuat tanpa brand.

Misalnya:

  • Konten nostalgia
  • Cerita rumah Umi
  • Tulisan reflektif

Karena brand bisa membuat rasa jadi “komersial”.