Rumah yang homey bisakah juga luxury? Dua kata tersebut sering dianggap berlawanan, padahal bisa saling menguatkan.

Yang perlu dibedakan adalah luxury dan glamour.

Kalau glamour, memang identik dengan marmer mengilap, chandelier besar, emas, furnitur yang “berteriak”. Tapi luxury yang lebih modern justru sering terasa hangat, tenang, dan sangat nyaman ditinggali.

Ada istilah yang sering dipakai para desainer: quiet luxury. Bukan pamer kemewahan, tetapi kualitas yang terasa tanpa perlu dipamerkan.

Misalnya bayangkan dua ruang keluarga.

Ruang pertama:

  • lantai marmer putih mengilap,
  • sofa putih,
  • banyak warna emas,
  • chandelier kristal.

Semua orang langsung berkata, “Wah, mewah.”

Ruang kedua:

  • lantai kayu atau porselen motif kayu yang sangat realistis,
  • dinding warm greige,
  • sofa linen warna oatmeal,
  • coffee table batu travertine,
  • pencahayaan hangat,
  • tanaman hidup,
  • tirai linen menjuntai sampai lantai.

Orang mungkin tidak langsung berkata “wah”. Tetapi setelah duduk lima menit, mereka akan berkata, “Aku betah di sini.”

Kemewahan seperti itu jauh lebih bertahan lama daripada kemewahan yang hanya mengandalkan kesan pertama.


Ada salah satu prinsip desain berikut:

Biarkan rumah berkata “Selamat datang”, bukan “Lihat aku.”

Rumah yang family oriented memang seharusnya mengundang orang untuk duduk lebih lama, bukan membuat mereka takut menyentuh apa pun.


Kalau ruangnya compact, justru ada beberapa trik agar tetap terasa luxury.

  • Gunakan sedikit jenis material, tetapi pilih yang benar-benar bagus. Misalnya hanya kayu oak, travertine, kain linen, dan metal hitam. Jangan terlalu banyak variasi.
  • Besarkan ukuran beberapa elemen utama. Satu sofa yang proporsional sering terlihat lebih elegan daripada beberapa sofa kecil.
  • Gunakan tirai dari plafon sampai lantai agar tinggi ruang terasa bertambah.
  • Maksimalkan pencahayaan tidak langsung (indirect lighting). Cahaya yang “mencuci” dinding memberi kesan mahal tanpa menambah dekorasi.
  • Sisakan ruang kosong. Tidak semua sudut harus diisi.

Apabila tujuan desain rumah kita adalah bukan sekedar rumah yang cantik, tetapi rumah yang membuat orang ingin pulang. Itu berbeda dengan rumah yang hanya ingin difoto. Untuk itu jangan mengejar luxury yang sedang tren kalau akan mengorbankan rasa hangat yang memang menjadi inti desain kita.

Yang mungkin perlu kita kejar adalah:

Warm Luxury.

Atau lebih spesifik lagi,

Quiet Luxury for Family Living.

Bayangkan ketika anak-anak, cucu, atau tamu datang. Mereka melepas sepatu, duduk santai di sofa, minum teh, mengobrol berjam-jam. Lalu di tengah suasana yang akrab itu, mereka baru menyadari detail-detailnya: sambungan kayu yang rapi, pencahayaan yang lembut, tekstur batu yang indah, proporsi kabinet yang presisi. Kemewahannya tidak datang dari kemegahan, melainkan dari kualitas yang perlahan terasa.

“Luxury is not the first impression. It’s the feeling that makes people never want to leave.”

Kalimat itu bisa menjadi kompas desain untuk rumah yang: hangat, nyaman, tetap elegan, dan benar-benar hidup sebagai rumah, bukan sekadar ruang pamer.


Rahasia Kesan Luxury dalam Interior

Leave a Reply