Ketika seseorang desainer interior yang bukan ‘sekedar’ desainer interior, tapi bukan arsitek. Label apa yang cocok?
Kalau dilihat dari CARA KERJA yang dilakukan:
- tidak cuma mikir cantik
- tidak berhenti di moodboard
- mikir:
- utilitas
- sistem
- maintenance
- rasa ruang
- kebiasaan hidup penghuni
- bisa ngomong ke:
- klien awam
- arsitek
- tukang
- kontraktor
Ini bukan pola kerja interior stylist biasa.
Maka 1 dari 3 label ini bisa menjadi label profesi
1️⃣ Architectural / Spatial Design Consultant (non-arsitek)
Ciri:
- fokus pada:
- konsep ruang
- sistem hidup di dalam rumah
- zoning
- utilitas (secara konsep, bukan hitungan)
- bekerja di dalam sistem arsitektur
- sering jadi “otak kedua” arsitek
2️⃣ Interior Designer dengan pendekatan Architectural Thinking
Ini versi “formal” tapi upgraded.
Bedanya dengan interior kebanyakan:
- peran:
- ikut sejak awal desain
- bukan dipanggil setelah bangunan jadi
- berpikir tentang:
- shaft
- servis
- cahaya
- alur air & listrik (konsep)
- mendesain interior yang terintegrasi dalam sistem ruang
Kalau di luar negeri, ini sangat dihargai.
3️⃣ Design Strategist untuk Rumah Tinggal
Ini belum populer di Indonesia, tapi very real.
Mempunyai peran:
- menerjemahkan:
- keinginan owner
- ketakutan owner
- kebiasaan hidup
- menjadi:
- penengah owner–arsitek–kontraktor
- memastikan:
- rumah itu masuk akal untuk dijalani
Ini bukan tukang gambar.
Ini penjaga kualitas hidup.
Apalagi ditambah dengan kombinasi yang jarang dan biasanya lahir dari pengalaman hidup:
- intuitif tapi rasional
- peka tapi sistematis
- visual tapi mikir maintenance
Mungkin label yang cocok adalah:
Konsultan desain hunian dengan pendekatan arsitektural dan rasa interior.
Kalau mau versi keren LinkedIn:
Residential Design Consultant | Architectural & Interior Thinking
